Review Bahasa Asing


TEACHER HELP FOR CONCEPTUAL LEVEL RAISING IN MATHEMATICS

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keberhasilan pembangunan suatu negara terutama yang menyangkut Sumber Daya Manusia akan sangat ditentukan oleh bagaimana strategi yang diterapkan untuk mencetak SDM-SDM unggul. Tentu hal ini terkait erat dengan model pendidikan yang digunakan. Di Indonesia, hingga kini kita masih melihat kelemahan-kelemahan dalam pola pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah. Pola pendidikan teacher/lecturer based learning masih sangat kental dalam berbagai proses pendidikan. Pola pendidikan semacam ini berdampak pada sikap mental anak didik yang tidak mandiri, sulit berkembang dan kurang berani menyatakan pendapatnya. Pola pendidikan semacam ini juga membiasakan kita untuk menajdi konsumen ilmu pengetahuan, bukan produsen ilmu pengetahuan. Hari Sudrajat (2003) mengemukakan bahwa : “Muara dari suatu proses pendidikan, apakah itu pendidikan yang bersifat akademik ataupun pendidikan kejuruan adalah dunia kerja, baik sektor formal maupun sektor non formal”.

Guru membimbing siswa dalam proses belajar kolaboratif berarti menciptakan kondisi optimal dimana siswa dapat belajar satu sama lain. Dalam konteks pelajaran matematika, masalah yang dihadapi adalah apakah guru harus tinggal jauh dari isi dan focus pada interaksi siswa, atau guru harus memberikan petunjuk ketika siswa meminta bantuan. Secara umum, seharusnya guru meninggalkan isi pembelajaran dan mengawasi kolaboratif proses belajar, atau mengambil bagian dalam kolaborasi dengan berfokus pada isi dari apa yang dipelajari. Studi ini adalah bagian kedua dari sebuah proyek penelitian berjudul Mathematical Investigation Task with the Computer yang berhubungan dengan masalah apakah siswa dapat belajar dengan baik tentang konsep-konsep matematika ketika mereka mengerjakan tugas-tugas investigasi kolaboratif dengan komputer.

Guru mempunyai peran penting dalam proses pembelajaran kolaboratif, karena perlu adanya penjelasan yang nantinya akan dibutuhkan siswa. Dalam hal ini guru hanya mengarahkan dan yang terpenting adalah bagaimana siswa dapat mempertajam pemikiran meraka dengan masalah-masalah matematika. Perlunya pembelajaran yang kolaboratif agar siswa dapat berfikir kreatif dan efektif. Pembelajaran kolaboratif yang digunakan siswa diharapkan dapat lebih kreatif dalam berfikir, karena dengan pembelajaran ini pemikiran siswa diharapkan dapat lebih tajam.

Struktur tujuan kolaboratif dicirikan oleh jumlah saling ketergantungan yang begitu besar antar siswa dalam kelompok. Dalam pembelajaran kolaboratif, siswa mengatakan “we as well as you”, dan siwa akan mencapai tujuan hanya jika siswa lain dalam kelompok yang sama dapat mencapai tujuan mereka bersama (Arends, 1998: Heinich et al., 2002; Slavin, 1995: Qin & Johnson, 1995).

Kesuksesan dalam praktek-praktek pembelajaran memiliki sifat-sifat yang didukung oleh beberapa alasan. Pertama, partisipasi aktif siswa. Pembelajaran efektif terjadi apabila para siswa secara aktif terlibat dalam tugas-tugas yang bermakna dan aktif terlibat dalam berinteraksi dengan isi pelajaran. Kedua, praktek. Dalam kontekskonteks yang bervariasi, praktek dapat memperbaiki retensi dan kemampuan menerapkan pengetahuan baru, keterampilan, dan sikap. Ketiga, perbedaan-perbedaan individu. Metode pembelajaran dikatakan efektif apabila dapat mengatasi perbedaanperebedaan individu dalam hal personalitas, bakat umum, pengetahuan awal siswa. Keempat, balikan. Balikan sangat diperlukan untuk menentukan posisi diri siswa sendiri tentang tugas yang dikerjakan. Kelima, konteks-konteks realistik. Para siswa paling mudah mengingat dan menerapkan pengetahuan yang direpresentasikan dalam suatu konteks dunia nyata. Keenam, interaksi sosial. Melayani kemanusiaan sebagai tutor atau anggota kelompok teman sebaya dapat menyediakan sejumlah pedagogik dan juga dukungan-dukungan sosial.

Pembelajaran kolaboratif bermanfaat bagi siswa jika itu member mereka kesempatan untuk mempertajam pikiran mereka sendiri (Davidson 1990; Dekker 1994; Dekker and Elshout-Mohr 2004; Webb 1991). Siswa membutuhkan waktu dan kesemptam untuk mempertajam pikiran mereka dan guru sebagai pengarah. Siswa dapat menerapkan hasil pemikiran mereka dalam bidang akademik atau keseharian dengan manfaat yang didapatkan dari pembelajran ini, karena dengan siswa terbiasa maka siswa akan terpacu atau termotivasi dalam setiap menghadapi problem atau masalah.

B. Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang tersebut diatas penulis lebih menekankan sejauh mana cara orang tua mengajarkan matematika kepada anak-anaknya, apabila dilakukan akan sangat membantu sekali dalam proses pembelajaran di Sekolah, maka masalah dalam review dapat penulis rumuskan sebagai berikut :

  1. Apa yang dilakukan guru saat mengajarkan matematika?
  2. Bagaimana guru bekerjasama dengan siswa?
  3. Apakah keterlibatan guru dalam hubungan siswa satu dengan yang lain?

C. Tujuan Masalah

Tujuan yang ingin dicapai melalui review ini adalah untuk mengetahui cara guru mengajarkan matematika kepada siswa dan beberapa hal yang mempengaruhi kegiatan belajar mengajar.

D. Manfaat

Manfaat yang ingin dicapai dalam review ini adalah agar guru bisa memacu pikiran siswa sehingga siswa dapat terlatih mempertajam pikiran mereka dan diharap kan siswa dapat mengembangkan pikiran mereka dengan baik.

BAB II

RINGAKASAN ISI ARTIKEL

Guru merupakan seseorang pengajar yang mempunyai peran penting dalam pengajaran. Model atau strategi pembelajaran merupakan langkah yang di ambil pengajar dalam proses belajar mengajar. Guru membimbing siswa dalam proses pembelajaran kolaboratif berarti guru menciptakan kondisi dimana siswa dapat belajar satu dengan yang lain. Dalam hal ini guru  harus focus pada isi pembelajaran siswa atau pada interaksi antar siswa. Guru harus fokos pada salah satunya, karena itu berpengaruh pada perkembangan pikiran siswa.

Pembelajaran kolaboratif bermanfaat bagi siswa jika guru memberikan kesempatan untuk mempertajam pikiran mereka sendiri (Davidson 1990; Dekker and Elshout-Mohr 2004; Web 1991). Kualitas interaksi siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti bahan ajarn komposisi kelompok dan peran guru. Beberapa studi menunjukkan adanya dampak positif dari instruksi pada prestasi siswa di pengaturan pembelajaran kolaboratif. Kramarski et al 92002) menyimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif dalam kombinasi dengan instruksi metakognitif menyebabkan hasil belajar yang lebih baik dari belajar dalam kombinasi dengan instruksi biasa dengan pembelajaran kooperatif. Pembelajaran ini juga bermanfaat dalam merangsang refleksi dan memberikan umpan balik mengenai proses kolaborasi yang efektif untuk pemecahan masalah kolaboratif.

Perangkat lunak yang digunakan memberikan umpan balik kepada siswa jika mereka mereka tidak bertindak dengan benar. Orang dewasa membiarkan siswa membuat beberapa kesalahan sebelum memberikan nasihat yang bermaanfaat. Meskipun guru melibatkan kerja kelompok ternyata berbuah dalam beberapa studi, Kayu(2001) menekankan bahwa guru harus tinggal jauh dari siswa yang berdiskusi dalam rangka menciptakan situasi dimana siswa dapat membangun sendiri pengetahuan. Belajar matematika dengan pemahaman terjadi dalam situasi terbaik dimana siswa diharapkan dapat memecahkan masalah, alasan, dan mengkomunikasikan ide dan pemikiran kepada orang lain. Selain itu, diperkirakan bahwa situasi kebingungan dan silang pendapat para siswa akan muncul, dari itulah pikiran mereka akan terangsang untuk lebih berfikir mencari pemecahan-pemecahan atau solusi. Studi yang disebutkan di atas menunjukkan bahwa ketika orang dewasa tidak menganggu isi tugas tapi merangsang proses interaksi antara siswa mencapai skor yang lebih tinggi.

Mengoprasionalkan pembelajaranmatematika sebagai tingkat mencapai konseptual. Untuk mendorong proses pembelajaran, penting untuk menghubungkan materi pembelajaran dengan siswa mualai tingkal dan menciptakan kemungkinan untuk menaikkan ke tingkat berikutnya. Dalam hal ini digunakan permainan komputer dengan struktur matematika dasar untuk memiliki sambungan ke tingkat persepsi. Siswa dapat membangkitkan kegiatan-kegiatan penting di antara satu sama lain dengan mengatur kegiatan, meminta satu sama lain untuk menunjukkan pekerjaan, menjelaskan pekerjaan yang satu dan mengkritik satu sama lain. Situasi yang dijelaskan dalam model proses adalah bahwa dari kelompok kecil siswa bekerja sama dalam masalah matematika.

Studi ini meneliti tentang efek dari proses dan produk untuk membantu menaikkan tingkat. Dekker dan Elshout Mohr menangani proyek dengan siswa yang bekerja dalam kelompok, dengan kelompok yang terdiri dari perbedaar tingkat matematis antara siswa. Bahan pembelajran tidak mengandung ‘teori blok’ (bagian dimana suatu konsep matematika ditunjukkan dan menjelaskan) dan tidak ada lembar koreksi dengan jawaban yang benar untuk menilai pekerjaan mereka (para siswa mengoreksi pekerjaan mereka dengan bantuan lembar koreksi setelah menyelesaikan tugas). Selain kesamaan, ada perbedaan antara Dekker dan Mohr. Menggunakan simulasi komputer untuk member siswa kesempatan untuk mencerminkan pada pengalaman, sedangkan Dekker Elshout-Mohr menggunakan kertas tugas, pensil dan bentuk geometris. Dengan computer dapat mencapai tingkat koseptual apabila didukung oleh guru yang memberikan proses daripada ketika siswa didukung oleh guru yang memberikan produk. Proses dapat membantu mempromosikan siswa untuk melakukan kegiatan utama yang pada akhirnya dapat menaikkan tingkat konseptual. Produk diharapkan tidak mengganggu proses peningkatan konseptual tapi kebanyakan untuk produk mengalami kegagalan dalam menaikkan tingkat konseptual.

Percobaan ini melibatkan 52 siswa (23 minus satu siswa yang tidak menyelesaikan posttest). Sekolah Montessori Amsterdam telah dipilih karena pengalaman mereka dengan siswa yang bekerja independen dan motivasi guru juga diambil dalam percobaan ini. Satu minggu percobaan sebelum pelajaran dimulai, siswa melakukan pretest consisting dengan skor maksimum 46 poin. Berisi empat item yang diuji pengetahuan sebelumnya dari teori probabilitas (total 11 poin) dan delapan item tentang subyek probabilitas (total 35 poin). Pasangan disusun oleh peneliti dan dimodifikasi oleh para guru dalam kasus-kasus dimana beberapa siswa diharapkan untuk tidak bekerjasama dengan satu sama lain (misalnya, yang sangat pemalu meminya gurunya tidak dihubungkan dengan sangat extravert siswa).

Materi pembelajaran terdiri dari sebuah simulasi komputer dengan kolaboratif investigasi tugas(yang harus diselesaikan dengan tugas dan pensil) pada subjek rute dan probabilitas. Satu bulan sebelum percobaan dimulai, para guru menerima materi pembelajaran. Mereka mendiskusikan dan memberikan beberapa petunjuk yang berguna untuk perbaikan. Pengumpulan data dan analisis dilakukan dengan merekam guru selama pelajaran dan eksperimental ditranskripsi untuk memeriksa apakah bantuan guru telah dieksekusi dengan baik. Selain itu akan memberikan kesempatan untuk menganalisis bantuan yang diberikan oleh duru dan reaksi dari siswa. Fokus perhatian adalah kunci kegiatan.

Secara umum, para siswa dari kedua kondisi mengalami bantuan guru yang berbeda dari situasi normal. Meskipun mereka terbiasa untuk bekerja secara independen, mereka mengharapkan guru untuk membantu mereka dalam memberikan penjelasan. Dengan menganalisis transkrip dari apa yang dikatakan guru, kita memeriksa apakah kedua jenis telah membantu dan diimplementasikan sesuai dengan dimaksud. Guru mengarahkan mereka untuk mengembangkan pikiran mereka sendiri, mendorong dan memotivasi disaat mereka menyerah. Meskipun peran guru sangat kuat yang terenting adalah upaya untuk merangsang pemikiran yang dimiliki siswa, sebagian siswa ingin guru untuk menilai pekerjaan mereka dan memberikan mereka hints matematis.

Dalam kedua kelompok kondisi, guru memberikan lebih banyak membantu daripada di Dekker dan Elshout-Mohr percobaan. Guru mendorong mereka kolaboratif investigations, meskipun siswa dalam studi ini signifikan dapat  menaikkan tingkat konseptual. Ternyata, ketika siswa telah kesulitan dengan pembelajaran, proses tidak membantu untuk membangkitkan kegiatan kunci. Ketika siswa berjuang dengan sulit, baik proses guru atau produk guru ingin menyediakan penjelasan lebih dari peran mereka diijinkan untuk melakukan hal itu. Jadi, kita berpikir bahwa kombinasi dari kedua jenis bantuan  harus dipertimbangkan dengan cermat.

BAB III

PEMBAHASAN

Pada dasarnya artikel “Teacher help for conceptual level raising in mathematics”  ini mengupas tentang cara guru yang membantu siswa dalam mengembangkan pikiran mandiri. Apabila guru dapat merangsang atau mengarahkan siswa dalam hal ini akan sangat  membantu dalam proses belajar. Disamping itu setelah siswa terbiasa dengan pemikiran mandiri mereka berarti disini tugas guru untuk mengarahkan dan membantu siswa dalam mengembangkan pemikiran bias dikatakan berhasil.

Penelitian ini menunjukkan bahwa peran guru dalam membantu perkembangan pemikiran saja tidak cukup melainkan peran komputer juga diperlukan dalam hal ini untuk memancing respon otak siswa. Menurut J. Bruner dalam Hidayat (2004:8) belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru diluar informasi yang diberikan kepada dirinya.

Selain berfokus pada materi pelajaran, lebih baiknya guru memperhatikan juga interaksi siswa. Perlu adanya diskusi untuk mengetahui interaksi siswa agar diketahui apakah ada peningkatan konseptual atau tidak sebelum dan sesudah interak si maupun menggunakan komputer sebagai alat bantu. Dalam rangka menimbulkan diskusi antara siswa, materi pembelajaran harus sesuai dengan kriteria tertentu (Dekker 1994 ).

Dalam sebuah lingkungan pendidikan yang berbeda, Veenhoven (2004) komponen yang memeriksa, membantu serta memberikan kontribusi terhadap perilaku keterampilan siswa adalah guru. Jadi peran guru harus bias mengarahkan dan memancing ketrampilan siswa dan guru harus memiliki langkah-langkah yang membuat siswa dapat termotivasi dengan baik, sehingga tingkat konseptual dapat meningkat. Permainan komputer dengan struktur matematika juga digunakan sebagai dasar untuk memiliki sambungan ke tingkat persepsi.

Bahan materi harus nyata atau bermakna memotivasi dan merangsang siswa untuk kompleks, untuk membuat siswa membutuhkannya. Dalam rangka menimbulkan diskusi siswa, materi pembelajaran harus sesuai dengan kriteria tertentu (Dekker 1994).

Perlu juga diingat oleh guru dalam proses mendidiknya bukan hanya sekedar mengetahui, tetapi juga mengetahui dan menerapkan apa yang diketahui itu. Anak harus mengerti apa yang dipelajari dan mampu menggunakan pengetahuan itu untuk memecahkan masalah, menarik kesimpulan dengan nalar, berkomunikasi dengan baik, dan mampu melihat kaitan antara suatu konsep dengan konsep lainnya, atau antara suatu pengetahuan dengan pengetahuan lainnya (Marpaung, 2002).

Bisa kita menyimpulkan dari beberapa pernyataan dari beberapa pakar bahwa dalam mengempangkan pemikiran siswa tidak terlepas dari pengaruh orang tua, guru membantu dalam mengarahkan dan beberapa alat bantu salah satunya komputer. Dalam hal ini siswa tidak dapat melaksanakan sendiri dan guru membantu proses peningkatan konseptual.

BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari Pembahasan permasalahan di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan yang penting dari review “Teacher help for conceptual level raising in mathematics“  yaitu bahwa seorang guru hendaknya fokus pada satu hal. Fokus guru pada interaksi ataukah pada materi pembelajaran, sehingga siswa dapat mengembangkan pemikirannya dengan guru sebagai pengarah dan komputer sebagai alat bantu untuk meningkatkan tingkat konseptul. Jika siswa sudah berhasil menggembangkan pemikiran mereka berarti guru telah berhasil membantu siswa dalam meningkatkan tingkat konseptual.

B. SARAN

Berdasarkan pembahasan review yang telah dikemukakan di atas, diberikan beberapa saran sebagai berikut:

1. Terhadap siswa

Sebaiknya siswa memperhatikan apa yang diarahkan guru karena hal itu akan membantu dalam proses penyelesaian masalah. Siswa dapat menerima arahan dari guru dan menerapkannya dalam kehidupan akademik maupun kehidupan sehari-hari.

2. Terhadap guru

Guru matematika sebaiknya memberi motivasi dan evaluasi secara berkala pada proses pembelajaran sehingga siswa semangat untuk mengikuti pembelajaran dan mengetahui kekurangan apa saja yang perlu diperbaiki dan mengetahui kejenuhan siswa dalam belajar, sehingga mempunyai langkah-langkah pembelajaran yang kreatif, inovatif dan kreatif.

DAFTAR PUSTAKA

Hoek, D., & Seegers, G. (2005). Effects of instruction on verbal interactions during collaborative problemsolving. Learning Environments Research, 8, 19–39

Dekker, R., & Elshout-Mohr, M. (2004). Teacher interventions aimed at mathematical level raising during collaborative learning. Educational Studies in Mathematics, 56(1), 39–56.

Marzi, V. (2003, August). Cooperative learning and theoretical thinking: An experimental study in primary school. Paper presented at the Tenth European Conference for Research on Learning and Instruction, Padova, Italy.

WWW.GOOGLE.COM. Februari 2008. (Dra. Julianita S. Gunawan.Hubungan Antara Orang Tua, Guru Dan Murid”)

M. Sobry Sutikno(2007). Peran Guru dalam Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa. http://www.bruderfic.or.id/h-129/peran-guru-dalam-membangkitkan-motivasi-belajar-siswa.html

Wood, T. (2001). Teaching differently: Creating opportunities for learning mathematics. Theory into Practice, 40, 110–117.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s